Little Tokyo in Dusseldorf

Weekend kemarin kami jalan-jalan ke kampung Jepang di Dusseldorf.

Sudah sejak lama saya dengar bisik-bisik soal kampung Jepang ini. Ketika ortu saya berkunjung kesini dua tahun yang lalu, kami sempat ngajak mereka jalan-jalan kesana sekalian buat ngebuktiin bener-enggaknya bisik-bisik itu. Tapi pas liat antrian yang panjang, ditengah suhu winter yang menggelitik tulang, kami lalu urung makan disana. Ortu saya ga kuat ikut antrian outdoor sambil menahan hawa dingin…. hahaaayyyyy…….

Sabtu barusan, saya dan pasukan bodrex capcus ke Dusseldorf buat food traveling. Dengan mata kepala sendiri (bukan minjem orang!!), kami membuktikan bahwa memang benar Dusseldorf itu surganya makanan Jepang di Jerman.

Jangan heran dengan fakta itu, karena memang Dusseldorf tercatat sebagai kota yang memiliki jumlah penghuni asal Jepang terbanyak ketiga di dunia *kalo saya ga salah*.

Dibawah ini saya review apa saja yang saya lihat dan alami di kampung Jepang tersebut. Karena yang namanya citarasa pasti subjektif, jadi jangan marah yaa kalo pendapat saya dibawah ini berbeda dengan laporan lidah anda… namanya juga seleraaaa….. :p

Restoran khusus ramen/mie.

Di Dusseldorf ada 2 resto ramen yang terkenal; Na ni wa dan Takumi. Berdasarkan pengalaman beberapa teman pecinta makanan Jepang, dan hasil googling review restoran, Na ni wa merupakan resto dengan predikat the best Japanese ramyun and the most famous Japanese restaurant in town. Hal itu kami buktikan sendiri, kami bisa dengan bebas melenggang masuk Takumi, sedangkan di Na ni wa kami harus antri sekitar 30 menit….ckckckckckkk…..

Eh tapi mungkin juga pendapat ini kurang valid, karena sekarang sudah dibuka Takumi 2nd yang lokasinya berdekatan dengan Na ni wa..hehe…

Berdasarkan lidah saya, untuk ramen saya masih lebih suka Takumi. Kekenyalan mie nya membuat saya ingat mie ala GM. Kenyalnya sangat menggoda ;)

Tapi untuk soal rasa kuah kaldunya, saya lebih suka Na ni wa. IMHO, kuah kaldo Takumi terlalu asin. Lagian dari segi harga, Na ni wa sedikit lebih murah dibanding Takumi, padahal dari segi porsi, Na ni wa sedikit lebih jumbo dari Takumi.

Udah gitu di Takumi, yang tertulis ‘gratis’ ternyata bersyarat; bukan Sabtu-Minggu, dan hanya pada jam tertentu. Di Na ni wa, yang tertulis ‘gratis’ mah beneran gratis (kami makan disitu pas prime time lhoo)

Dus, price over quality+quantity, you judge it yourself ^_____^

Eh tapi btw, kalo kalian pengen experience kios mie Jepang yang sebenarnya (saya ngomong soal ambience), Takumi lah tempatnya. Karena di Na ni wa, ambiens nya sudah agak modern.

Berhadapan dengan Na ni wa noodle&soup, there is their sister restaurant Na ni wa sushi&grill. Kami ga nyoba makan disitu, karena sampai saat ini bagi kami sushi Yukimi is *still!!* the best…hehehee…. ;)

Kalo kapan-kapan kalian coba, jangan lupa bagi cerita ke saya yaaa…. ^____^

Notes: Tips kalo berkunjung ke Na ni wa, stick to ramen yaa… Makanan selain ramen, menurut saya kurang nendang ^___^

Japanese stores

Bertebaran di jalan itu (dan di beberapa blok sekitar situ), terdapat toko-toko yang menjual hal-hal yang berbau Jepang; mulai dari buku, peralatan rumah tangga, hingga supermarket.

Kami masuk di sebuah toko buku Jepang yang namanya Takagi. Duuhhhh bau khas kertas buku semerbak banget menjemput saya masuk pintu, bikin saya terkenang-kenang jaman masih kecil ke toko buku langganan bareng papa.

Ternyata Takagi adalah toko khusus buat para penggemar komik Jepang dan anime. Bersama kami disitu, ada beberapa gadis Jerman yang sedang melihat-lihat komik, dengan dandanan ala Harajuku waduuuhhhhh…….. *___*

Berseberangan dengan Takagi adalah pintu masuk dari belakang supermarket namanya Dae Yang. Dae Yang sepertinya merupakan supermarket half-half (istilah orang Belanda), maksudnya 50% barang Jepang dan 50%nya lagi barang Korea. Sepertinya pemiliknya adalah orang Korea, karena waktu mereka ngomong, saya koq langsung familiar sama bahasanya….aiiiggoooooooo…….wkwkkwwkwkkk….

Disini saya langsung kalap beli snacks Korea, coklat Lotte, en beberapa botol minuman ginseng…. Omoo omoooo….. :p

Oia, disini juga saya beli beberapa yakisoba. Kayaknya enak nih buat mi goreng wkwkwkwkkk…

Ga jauh dari Dae Yang, kami ketemu supermarket yang 100% Jepang, namanya Shochiku. Disini suami saya mupeng liat kue mochi. Tapi tentu saja, khas dia banget, begitu liat harga langsung mundur pelan-pelan wkwkwkwkkk…..

Japanese Bakery

Kata saya sih, kalo datang kesini jangan cuman makan ramen doang… Ngunjungin bakery-nya is a must!! Berdekatan dengan Takumi, ada toko roti namanya Bakery Taka. Tapi saya belum bisa kasih review sekarang, karena saya ga berbelanja disitu. Kalo minggu depan kami jadi kesana, saya pasti mampir ke Bakery Taka biar bisa ngasih hands-on review.

Instead of Taka, kami mampir ke toko roti yang direkomendasi beberapa orang, namanya Bakery My Heart. Waktu masuk, saya seperti anak kecil masuk toko permen. Roti-rotinya model kayak roti BreadTal* gitu. Saya sampai mupeng semupeng-mupengnya. Kami beli beberapa varian roti buat dicoba di rumah, dan amazingly GA ADA satupun yang ga enak!!!.. Saya dan suami sampe senyum-senyum sendiri gara-gara kami rebutan wkwkwkwk…. Azuki bean filled matcha buns, vanilla buns, melon buns, dan entah apalagi buns-buns lainnya… Duuhhhh pokoknya saya terngences-ngences mengenang roti-roti itu yang sudah sukses masuk perut saya *dan dengan mulus keluar lagi wkwkwkwkkk….oopppsss*

Oia, jangan lupa beli roti tawarnya yaaa…. Lembutnyaaa aiihh deehhh… Ibaratnya yaa, kalo tahu ada versi tahu sutra, kayaknya ini adalah roti tawar sutra… Hmmmmm………tastyyyy……. ^____^

Sepertinya, saking banyaknya orang Jepang di daerah itu, sampai-sampai ada salah satu resto grill yang hanya menggunakan bahasa Jepang, baik pada menu maupun pada papan pengumumannya. Kami jadi keder duluan ga berani masuk wkwkwkwkkkk…

Hal surprising lainnya, di salah satu cafe kopi yang ada disitu (yang gayanya agak mirip Starbuc*), tersedia varian kopi Chai tea latte dan matcha latte (green tea). Duuhhh sungguh-sungguh Japonaise euy…. ;)

Di sekitar situ terdapat juga kios yang namanya Maruyasu, yang menjual segala macam Japanese delicatessen mulai dari bento, sushi, ramen, dll. Tapi kami ga mampir karena perut udah pol terisi sama ramen dan gyoza di tempat sebelumnya wkwkwkwkkk….

Demikianlah jalan-jalan kuliner kami ke Jepang wkwkwkwkkk ;)…. Si ayah senang betul sampai pengen balik lagi kesana minggu depan. Tapi kalo jadi, minggu depan kami rencananya mau nyobain restoran Korea. Bisik-bisiknya sih, orang Korea juga mulai banyak disana. Kalo jadi, ntar saya review restoran Korea dan roti Bakery Taka yaaa….

Psssttt…. kalo anda ga suka makanan Jepang, deket situ ada restoran dim sum yang enak, namanya Dschunke. Posisinya hampir berhadapan dengan pintu masuk areal parkiran hotel Nikko… Coba deh.. ^___^

Until then…

XOXO,

Advertisements

One Comment Add yours

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s