Menikmati Seoul di Dusseldorf :)

Alert!! Alert!! … Jangan tertipu judul post yaaa hehehe… Walau di Dusseldorf ada beberapa restoran Korea dan sebuah supermarket Korea yang lumayan lengkap, tapi itu bukan berarti di Dusseldorf ada kampung Korea hehehe…Maksud judul post, minggu kemarin kami menikmati restoran Korea yang namanya Seoul, di Dusseldorf ^______^

Dari hasil browsing mbah Google dan baca-baca review restoran Korea di tripadvisor, ada beberapa restoran Korea di Dusseldorf yang layak buat dicoba… Lokasinya pun rata-rata ‘reachable’ a.k.a di tengah kota (mefet-mefetan sama kampung Jepun). Setelah mempertimbangkan dan membanding-bandingkan yang ini sama yang itu, yang sana sama yang sini, akhirnya pilihan jatuh pada restoran Seoul, yang lokasinya hanya beberapa meter dari Na Ni Wa (kalo pas lagi ngantri di Na Ni Wa, coba noleh ke kanan, naaaahhhhh kelihatan dah papan nama restoran Seoul… ya pak ya..??wkwkwkwk…)

Kenapa Seoul?? Karena konon kata review, yang running restoran ini adalah keluarga. Saya suka banget masuk ke restoran dimana yang running adalah keluarga. Biasanya taste makanannya pun adalah taste ‘rumahan’ alias autentik hehehe… Lalu info tambahannya adalah, pemilik restoran ini berasal dari daerah Jeonju (ga tau nih kalo tulisannya bener), dimana daerah tersebut terkenal sebagai daerah dengan kuliner ‘the best’ di Korea. Waahhhh jadi makin menggebu-gebu nih pengen nyobain makanan di “Seoul” ;)

Tentu saja sih sejujurnya saya ga tau bedanya masakan koki Jeonju sama koki dari daerah-daerah Korea lainnya… Tapi toch tetap saja seperti suatu jaminan kepastian jika kita tau sumber masakan datang dari ‘kampung’ yang punya reputasi mutu ^____*

Ketika tiba, jangan membayangkan ini sebuah restoran besar. Namanya juga restoran keluarga, dengan ruangan berukuran cukup (minimal masih jauh lebih besar dari Takumi 1st), dengan dekorasi minimalis, kami disambut oleh seorang bapak, yang setelah ngobrol lama, saya simpulkan merupakan ‘bapak rumah tangga’ dari restoran ini… Enaknya di restoran ini, selain bapak (dan istrinya sebagai pramusaji) sangat ramah pada pengunjung, juga mereka BISA berbahasa Inggris… Sungguh suatu point plus, dibandingkan restoran Jepang yang lain (dan toko roti Taka) yang kurang (atau mungkin tidak!!) bisa berbahasa Inggris…

Sebenarnya, kami baru punya satu kali pengalaman makan di restoran Korea. Itupun restoran dengan sistem makan sepuasnya, di Den Haag. Karena tidak punya pengalaman dengan sistem mesen menu, jadinya kami mesen ini dan itu seperti kalau sedang berada di restoran Cina. Pada akhirnya, kami merasa it’s not a wise decision to do… Karena seperti yang sering kita (kita???!!!wkwkwk) liat di drama Korea, orang Korea punya kebiasaan makan dengan hidangan ‘full table’. Jadi sebenernya, tanpa mesen ‘banyak-banyak’, meja kita sudah cukup ‘tertutup’ dengan beragam hidangan side dishes khas. Saya sungguh lupa fakta itu. Alhasil, meja kami bener-bener overloaded… ckckckckckk…

Anyway, makanannya beneran enak lhoo… Sehari-hari, saya bukan fans berat makanan daging bebek.. Tapi bebek di Seoul, amazingly empuk… It was the most juicy roasted duck I’ve ever tried in my whole culinary life :D

Top experience kami adalah makan Samgyeopsal…. Wuiiihhhh….bener-bener berasa kayak lagi makan bareng Hyun Bin dan Han Ji Won deh hahahahhahaaaaa………

Setelah seru-seruan ngobrol sama bapak dan ibu owner (saya pake ngomong aigoo aigooo lagi sama si ibu wkwkwkkk), kami jadi tau fakta bahwa restoran Seoul TIDAK PERNAH menggunakan msg atau penyedap rasa *pernyataan langsung dari si bapak!*. Karena alasan itulah salah satunya, maka restoran ini pernah menjadi headline di surat kabar lokal Dusseldorf sebagai the best Korean restaurant in town :)

Untuk diketahui, makanan Korea agak berbeda dibandingkan makanan Asia lainnya. Korea lebih ‘sederhana’ bumbu, ga banyak pake ini dan itu, dan banyak mengandalkan teknik masak rebus, grill tanpa minyak, atau disajikan secara segar. Itu mungkin makanya orang Korea sehat-sehat dan berkulit indah. Karena mereka peng-konsumsi makanan sehat dan segar.

Dan jangan underestimate kimchi!. Walau hanya terdiri dari ‘rerumputan’ yang difermentasi, kimchi termasuk dalam kategori Worlds Healthiest Food (silahkan tanya mbah google kalo ga percaya!!). Kimchi bukan hanya terdiri dari sayuran, tapi bisa juga terbuat dari ikan, daging, dan bahan-bahan lainnya. Malah ada spesial ilmunya, jika kimchi berbahan A dicampur dengan B, dapat menyembuhkan penyakit X, atau kimchi berbahan C dicampur dengan D, dapat menyembuhkan penyakit Y. Hebat betooolll si kimchi ini euyyy… :D

Itu kali resepnya ya, mangkanya orang Korea punya kulit yang putih dan relatively bersih ;)

Dari pengalaman kami makan di “Seoul”, kesimpulan kami kalo next time makan lagi ke restoran Korea (either disini ato di resto yang lain) adalah;

1. Stick to national/traditional Korean dish. Hidangan lainnya kurang lebih sama seperti hidangan-hidangan di restoran Cina atau Jepang. Makanan yang merupakan ciri khas Korea adalah Bulgogi, Kimbab (versi light dari sushi), Samgyeopsal (bacon yang di grill lalu dimakan dengan cara dibungkus dengan sayur salad), dan Bibimbap.

Kami ga cocok sama bibimbap. Sebaliknya, kami sangaaaaatttt suka Samgyeopsal. Next visit to Korean restaurant, Samgyeopsal bakal jadi menu must-eat kami. Kalo mau kimbab, mending ke resto sushi kali yeee hehehe…. Oia, sup Yukgaejang juga enak. Ini juga sup khas orang Korea.. Citarasanya, pedes pedes yummy … ^____^

2. Pada dasarnya ketika mesen satu menu, hidangan pilihan kita akan secara otomatis disuguhkan bersama beragam side dishes (seperti yang bisa dilihat pada foto dibawah ini)

Karena itu, pesan extra kimchi set hanya jika anda BENAR-BENAR fans kimchi… Hmmm…tapi ga apa-apa juga kali yaa, for the sake of gaining culinary experience hehehhehehee…. ;)

3. Makan makanan Korea *khususnya Samgyeopsal deh hahaha!!*, kurang lengkap tanpa hadirnya Soju atau Makgeolli.

Soju merupakan minuman beralkohol khas Korea, dengan kandungan alkohol sekitar 19% atau lebih. Karena rasanya yang ‘mendekati’ rasa air putih, jadi jangan sampai anda glek glek glek tau-tau udah mabok ajaaahhh wkwkwkwkwkkk…..:p

Makgeolli, konon merupakan minuman beralkohol tertua di Korea, dengan kandungan alkohol ‘hanya’ sekitar 6-8%. Saya seneng nyium bau makgeolli. Khas banget… Dengan tekstur yang kental berwarna putih susu, dan bau yang khas, saya jadi ingat Saguer, tuak khas daerah Minahasa (Manado). Rasanya pun sangat beti lafea ^____*

Tapi, untuk alasan ekonomis dan keamanan, saya tidak menyarankan anda minum Soju atau Makgeolli di restoran Korea. Alasan keamanan, karena anda kan kudu nyetir pulang… Kalo udah mabok soju, ga pulang pulang dwong dweeehhhh…. :p :p :p

Alasan ekonomis, karena untuk sebotol soju di restoran harganya dipatok sekitar 11an euro, sedangkan soju yang sama saya beli di Dae Yang, harganya ‘cuma’ 4euro-an wkwkwkwkwkkkk…. *tepokjidat*

Demikianlah pengalaman kuliner Korea kami di Dusseldorf… ;)

Oia, mumpung lagi di Dusseldorf, seperti janji saya beberapa waktu yang lalu, kami melipir ke toko roti Taka, setelah sebelumnya mampir ke Dae Yang beli yakisoba dan beberapa snacks Korea. Pendapat saya soal toko roti Taka: berbeda dengan BMH, toko roti Taka agak sedikit lebih kecil. Varian roti pun tak sebanyak dan ‘seberani’ BMH. Di Taka, saya ga nemu roti-roti berwarna hejo alias roti green tea.. Yang ada roti berwarna coklat keemasan semua… Saking kecilnya, dari kasir saya bisa langsung memandang hingga ke dapur. Saya tebak itu areal pembuatan roti… Harga roti menurut saya ga jauh beda sama BMH… Kalo soal rasa, menurut ayah sih masih lebih empuk roti BMH. Untuk hal yang satu ini saya ga punya pendapat. Karena kalo menurut saya sih, rasanya beti lafea lah alias beda tipis laf yeauu *maksa!!! wkwkwkwkw*

Saya punya cerita lucu nih di Taka… Sepanjang jalan setelahnya, saya dan ayah sibuk ketawa-ketiwi membayangkannya….Begini…, ketika saya lagi di kasir, muncul dari arah dapur seorang bapak tua, yang menurut saya mungkin pemilik toko roti Taka ini (ato minimal, orang kepercayaan bos Taka deh wkwkwkwkk). Di belakang saya, seorang ibu dan anak Jepang, yang mungkin adalah pendatang, karena mereka sibuk berceloteh dengan bahasa Nihon Go. Sambil menunggu si bapak selesai menghitung belanjaan saya, saya sibuk berbicara dalam hati; apa nanti bilang danke atau thank you… Apa danke saja biar dimengerti, atau thank you saja biar lidah saya ga kepeleset… Lagi sibuk menimbang-nimbang, tiba-tiba si bapak menyebut angka total yang ‘gaje’ banget, apakah itu bahasa Jerman, bahasa Inggris, atau bahasa Jepang… Dari pada takut salah, saya kasih lembaran bernominal besar. Setelah menerima uang kembalian, baru saja saya mau bilang ‘danke’, tiba-tiba pak tua ini membungkuk 30 derajat lalu berkata dengan suara berat tapi tegas, “arigato gozaimashita” … Teetttooooooottttt……. Saya kaget… Lalu bingung… Lalu salah tingkah…. Akhirnya saya hanya bisa senyum-senyum sambil ngangguk-ngangguk, lalu cepat-cepat beranjak pergi… Bingung saya mau jawab apa hahahahahaa…. Lalu saya pun menyesal setengah mati, jaman SMA mata pelajaran bahasa Jepang, saya ngantuk dan duduk di kursi belakang…. wkwkwkwkwkwkwkkk…….

Hmmm….kalau dipikir-pikir, masuk akal juga kalau si bapak (mungkin!) hanya bisa berbahasa Jepang.. Orang Taka tetanggaan sama restoran grill yang juga hanya bisa berbahasa Jepang….Kayak gak niat jualan di Jerman aja mereka itu yaaa wkwkwkwkwkk…… #tepokjidat

Ok deh ya kalo gitu… Hutang saya cerita toko roti, lunas sudah… Kalo kami, pilihannya BMH… Kalo kalian suka Taka, tidak apa-apa…Namanya juga selera toohhh….

Nanti kalo kami makan di resto Korea yang lain di Dusseldorf, pasti deh ceritanya saya woro-woro disini yak…..

Happy food traveling, peeps !!!

XOXO,

Advertisements

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s