Transit di Dubai

Bulan Februari kemarin, dalam perjalanan dari Jakarta ke Amsterdam, kami mampir transit di Dubai selama 18 jam. 18 jam?? Lama amat ya transitnya…

Iya… Kami memang sengaja memilih transit dengan durasi paling lama.

Seperti yang sudah diketahui, atau mungkin juga ada yang belum tahu, bahwa ketika akan membeli tiket pesawat Emirates secara online, kita diberi beberapa opsi pilihan lamanya durasi transit. Tiket paling mahal tentu saja yang durasi transitnya paling singkat; 2 jam ketika pergi (rute Amsterdam-Jakarta; saya mengambil referensi kota asal Amsterdam), dan 4 jam ketika pulang (Jakarta-Amsterdam).

Tiket berikutnya, dengan harga yang sedikit dibawahnya adalah tiket dengan durasi transit bervariasi; yaitu 6 jam, 8 jam, 11 jam, dan yang paling lama adalah 18 jam. Untuk harga tiket, baik transit 6 jam maupun transit 18 jam, dibandrol dengan harga yang sama.

*****

Sebagai penduduk Asia (dalam hal ini Indonesia) yang berdomisili di Eropa, kita memiliki satu keuntungan lebih jika melakukan perjalanan intercontinental menggunakan Emirates atau Etihad. Karena bila menggunakan salah satu dari dua maskapai penerbangan ini, kita secara otomatis β€˜berhak’ untuk mengajukan lamaran visa kunjungan singkat di Dubai. Tentu saja, ada biaya visa yang mengikutinya hehe… Jangan pikir gratis ya.. wkwkwk… πŸ˜‰

Menurut saya, hal ini ibaratnya seperti ungkapan β€œtwee halen een betalen”, kata orang Belanda, atau beli 1 dapat 2, kata orang kita. Dengan satu tiket Amsterdam-Jakarta pp., kita bisa menikmati enaknya pulang kampung, plus kesempatan melihat-lihat kota Dubai. Menguntungkan sekali, bukan?? Jadi rugi rasanya jika kita sebagai warga Indonesia yang tinggal di Eropa, tidak menggunakan keuntungan ganda ini.

Tips dari saya, untuk menghemat waktu, apply visa secara online via website Emirates atau Etihad. Anda tentu bisa melamar visa on arrival, tapi sayang kan kalau waktu beberapa jam hanya terpakai untuk antri visa.

*****

Seperti yang sudah digembar-gemborkan banyak orang, kota Dubai merupakan markasnya segala sesuatu yang β€˜TER…’. Tapi itu bukan berarti kita tidak bisa menikmati Dubai jika uang dikantong tidak dalam jumlah yang β€˜ter…’ πŸ˜‰

Memang benar, apa saja yang dijual di Dubai mahal harganya. Tapi jangan salah, barang elektronik yang dijual di Dubai, harganya termasuk yang murah khususnya jika dibandingkan dengan Asia. Hotel tempat kami menginap kebetulan berlokasi di seputaran Al FAhidi street, jalan yang terkenal sebagai lokalisasi souk elektronik. Sayangnya kami lebih mementingkan berkunjung ke tempat plesiran terkenal disana, dibandingkan window-shopping di Al Fahidi street. Jadi untuk hal yang satu ini saya tidak bisa kasih hands-on review soal barang-barang elektronik disini. Yang jelas, menurut kasak kusuk yang beredar, antara harga barang elektronik di Al Fahidi dan di Indonesia perbedaannya bisa mencapai lebih dari sejuta rupiah, untuk satu barang elektronik yang sama. Keabsahan berita ini nanti saya (atau mungkin anda??) cek lagi di Al Fahidi kalau lagi transit… Oke?? ^___^

*****

Soal makanan, dari yang termahal hingga yang reasonably murah, semua ada di Dubai. Kebiasaan kalau berplesiran, kami senang mencoba makanan khas setempat di restoran yang biasanya dikunjungi orang lokal. Bukan hanya karena kami mengejar ambiens lokal, tapi karena kami juga mengejar harga makanan yang murah dan merakyat. Dari hasil obrolan dengan supir taksi, kami mendapat gambaran bahwa normalnya penduduk lokal mengeluarkan biaya kurang lebih sekitar 30 hingga 50 Dhs untuk seporsi makan siang atau makan malam. Tidak mahal bukan??Β Dan jangan kaget… Dengan harga segitu, anda akan mendapat seporsi makanan yang besarnya cukup untuk makan 2 orang dewasa yang kapasitas usus besarnya sama seperti saya πŸ˜‰

Kalau saya bisa kasih saran, di daerah Deira ada sebuah restoran lokal yang jempol banget rasa dan harganya. Nama restorannya Maskoof, sebuah restoran Irak. Saya tidak tahu makanan yang lain, tapi menu ikan bakarnya sungguh luar biasa; baik dari segi rasa maupun ukurannya… Ikan ini disajikan dengan nasi berbumbu. Kekurangan hidangan ini menurut saya cuma satu; tidak disajikan dengan nasi putih, sambal, dan lalapan hahaha…. Saya harus ingatkan dari sekarang, jangan pesan seorang 1 porsi kalau anda tidak mau blenger πŸ˜‰

Jika lidah anda kurang cocok dengan makanan Timur Tengah atau makanan India yang termasuk murah meriah disana, jangan risau. Anda bisa melipir ke restoran cepat saji seperti KFC, McD, Subway, dll. Di Dubai Mall anda bisa jumpai beragam makanan untuk mengganjal perut dengan harga yang cukup terjangkau. Asia Wok termasuk didalamnya. Tapi, ngapain juga makan di wok ya kalau baru pulang dari Indonesia, surganya makanan enak hehehe…. :p

So, sejauh anda bukan dine-out di restoran termahal di Dubai, your pocket will be doing just fine… πŸ˜‰

*****

Bagaimana dengan hotel..??? Yahh… sejauh anda tidak menginap di Palm Atlantis atau hotel underwater yang spektakuler itu (apa sih namanya??), maka tabungan anda dijamin tidak jebol… Bahkan untuk hotel di sebuah daerah turis seperti Deira Creek, anda akan mudah menjumpai kamar untuk 2 orang seharga sekitar 50 euro per malam. Cukup murah bukan??

Saya pernah membaca di sebuah situs entah dimana (maaf saya lupa) bahwa prosentase penduduk Dubai terdiri dari sekitar 30% saja kaum β€˜the have boats’, dan sisanya merupakan kaum β€˜the have enough’ … Itu artinya, walaupun Dubai merupakan tempat tinggal para juragan minyak, tapi tentu saja pemutar roda perekonomian terbesar di kota itu adalah para orang kecil; para pekerja kasar, blue collar, yang notabene tidak masuk himpunan kaum β€˜berpunya’ dengan purchasing power yang besar. Karena itu, jangan khawatir dompet anda bakal bocor di Dubai. Selama anda bukan dinner di lounge Burj Al Arab, dan mampu menahan godaan si Etan di Mall Dubai yang megah, maka rest assure, rekening tabungan anda pasti aman sentosa dari segala pengeluaran-pengeluaran yang β€˜jahat’… πŸ˜‰

Khusus untuk hotel, tips saya, jangan manja!! Berjalanlah lebih jauh lagi dari sekedar areal airport. Di kota Dubai ada begitu banyak hotel murah. Jangan berpatokan hotel di airport saja. Tahu sendiri kan semahal apa harga hotel di airport? Jangan ada pikiran takut ketinggalan flight kalau tidak menginap di hotel airport. Rileks…. Jarak airport dan pusat kota Dubai hanya sekitar 20 menit saja.

*****

Menurut saya, Dubai adalah seperti sebuah cerita dongeng anak-anak klasik; si bebek buruk rupa yang menjelma menjadi angsa cantik jelita karena sentuhan sebuah keajaiban. Dengan bantuan tangan manusia-manusia pintar generasi ini, didukung dengan kekuatan finansial yang berkelimpahan turun-temurun, Dubai menjelma dari sebuah tempat yang kering kerontang dan mandul menjadi sebuah kota yang gemerlap dan penuh pesona…

Semua yang β€œter-β€œ ada di Dubai. Mulai dari hotel TERmahal (Burj Al Arab), mall TERbesar (Dubai Mall), menara TERtinggi (Burj Khalifa), lift TERcepat (Burj Khalifa), aquarium indoor TERbesar (Dubai Mall), ski indoor TERbesar (Dubai Ski), pulau buatan TERbesar (Palm Island), musical fountain TERtinggi (the Dubai Fountain), dan ter… ter… ter… lainnya…..

Mohon maaf dengan pengandaian saya, tapi rasanya Dubai adalah kota dimana manusia bisa β€˜bermain-main’ menjadi Tuhan… Menyulap yang tidak ada menjadi ada, dan membangun yang biasa-biasa menjadi luar biasa… Tapi lalu, jika anda berjalan menjauhi gemerlapnya semua buatan manusia tersebut, maka yang tampak adalah kekosongan, ketiadaan, dan kekeringan…. Aahhh…memang dengan kekuatan apapun manusia berusaha, manusia tetaplah bukan Tuhan…..

*****

Siapa yang tidak tahu kalau Dubai adalah salah satu tempat dengan klimat TERpanas di dunia… Jarang hujan, dan melulu terik… Kami beruntung sekali mengunjungi Dubai di β€˜musim dingin’. Walau toh tetap saja panas, tapi minimal kami tidak super kepanasan. Dari folder traveling tentang Dubai yang saya baca, waktu paling tepat untuk mengunjungi Dubai adalah di bulan Desember-Februari. Cuaca tidak terik, dan kita pun bisa sekalian mengunjungi Dubai Global Village, semacam pameran bangsa-bangsa yang hanya ada di Dubai dari bulan Oktober s/d Maret setiap tahunnya. Tahun ini pengunjung Global Village merupakan yang terbanyak, sejak 1996 pertama kalinya Global Village ini diselenggarakan.

Saya mencatat kunjungan ke Dubai Global Village pada urutan ketiga daftar kunjung kami selama di Dubai. Sayangnya, menurut pak supir, perjalanan menuju Global Village memakan waktu hampir 1 jam terhitung dari downtown Dubai. Ayah langsung memberi sebuah signal pelototan mata, mengisyaratkan saya untuk tidak keukeuh meminta kesana… Ya sudah… Mungkin belum berjodoh… Mudik tahun depan saja kalau begitu *amiiiinnnn…..*

*****

Jalan-jalan dengan menggandeng dua krucil batita tentu saja merepotkan. Itu sebabnya kami memilih durasi transit yang paling lama agar kami tidak sampai tergopoh-gopoh mengejar waktu, dan bisa cukup rileks bersantai menikmati Dubai.

Entah karena penduduk Dubai rata-rata punya mobil sendiri, atau memang karena efek kebaikan hati para pemimpin UAE, taksi di Dubai tergolong sangat murah untuk ukuran sebuah kota yang termahal… Saya dan suami sampai geli sendiri. Masa sih kalau naik taksi di Indonesia kami dag dig dug jeerr melototin argo, sedangkan di Dubai kami bisa naik taksi dengan hati tenang dan senyum senang… Ckckckckkk…

Untuk diketahui,Β argo taksi Dubai dimulai dari 3.50 dirham.

Tentu saja secara logika, naik bis pasti akan lebih murah lagi. Tapi sebagai turis transit, saya rasa menggunakan moda transportasi bis sangat tidak praktis. Kita akan kehilangan banyak waktu hanya untuk mengejar-ngejar bis, mencari informasi halte, dan mempelajari rute yang hendak dituju, agar tidak salah turun halte. That’s really time-consuming… Karena itu saran saya kalau berkunjung di Dubai dengan metoda transit, menggunakan taksi adalah jauh lebih efisien. Dan satu keunggulan taksi yang tidak dimiliki oleh bis; taksi bisa dengan lincah bermanuver di jalan raya. Keadaan lalu lintas Dubai yang tanpa speedlimit, membuat taksi mampu mengantar kita lebih cepat dari estimasi google map (pengalaman pribadi! Hehe…).

Tips dari saya, catat selengkapnya alamat destinasi anda, baik hotel ataupun tempat wisata yang hendak anda tuju. Catatan tersebut adalah penyelamat anda, jika anda dan supir taksi terjebak dalam pusaran miskomunikasi (bahasa Inggris ala Pakistani sungguh sangat susah dimengerti. Dan apparently, bahasa Inggris yang keluar dari bibir orang Indonesia seperti kami tampaknya susah untuk membuat mereka mengerti hahahaa…)

*****

Mengunjungi Dubai, disarankan menggunakan busana yang sopan, khusus buat para pengunjung wanita. Tapi sebagai satu-satunya kota metropolitan di UAE, jangan heran kalau anda melihat wanita-wanita Emirati yang berpakaian ala fashionista (walau tentu saja tidak dengan model yang terbuka). Sopir taksi kami cerita, dia cukup sering menjemput tamu yang datang bersama istri yang menggunakan burqa. Ketika malam hari tamu tersebut dijemput di lobi hotel, sang istri sudah berubah tampilannya; mengenakan busana modern ala perempuan-perempuan metropolitan dunia. Di Dubai, hal seperti itu sudah biasa…

Dalam hal berbusana, umumnya para pria Emirati menggunakan kandura atau thawb, dan para wanita Emirati menggunakan abaya, shela, atau burqa. Tapi konon kata pak sopir, tidak banyak lagi perempuan Dubai yang menggunakan burqa. If spotted, they must be visitors, from either Abu Dhabi or from any other city of UAE.

Gold Souk Dubai
Gold Souk Dubai

*****

Berkunjung di suatu tempat, cukup penting untuk membawa pulang oleh-oleh, sesuatu yang khas dari daerah tersebut. Di Dubai, anda punya banyak pilihan oleh-oleh yang khas. Entah itu karpet Persia yang terkenal, bahan tekstil Timur Tengah, atau, jika punya uang sedikit berlebih(an), bisa juga membawa pulang perhiasan emas hasil kalap mata di Gold Souk. Tapi untuk hal yang terakhir ini, bukan hanya tergantung duit di tabungan, tapi juga tergantung selera. Karena perhiasan emas di Dubai memiliki kandungan emas yang murni alias 100%. Jadi untuk dikenakan sehari-hari menurut saya masih lebih ‘nyaman’ memakai perhiasan emas made in bangsa kita. Bagaimana menurut anda…???

Gold Jewelry at Gold Souk
Gold Jewelry at Gold Souk

Oleh-oleh yang murah meriah dari Dubai adalah coklat khas Emirate dan segala varian jajanan dates (buah kurma, kalau saya tidak salah). Jangan salah lho, coklat Arab juga tak kalah terkenalnya dengan coklat Swiss.. Hanya perbedaannya, coklat Swiss manis banget cenderung eneg, sedangkan coklat Arab rasanya tidak terlalu manis. Jika berminat, coba beli coklat yang bermerk Galaxy. Menurut referensi, coklat bermerk tersebut cukup terkenal di Dubai. Saya juga tidak ketinggalan ikutan beli. Tapi mohon maaf bapak dan ibu Emirati, menurut saya tetap saja Silver Que** is the best hehehe… ^______^

IMG_20130403_112559

Untuk dates atau buah kurma, yang paling terkenal di Dubai (dan harganya sungguh tipikal Dubai!!) adalah Bateel dates (buah kurma bermerk dagang Bateel). Dari penampilannya, Bateel dates ini sungguh sangat menggoda iman. Di Mall Dubai ada spesial tokonya. Tapi kalau sudah lihat harganya, kita hanya bisa mengelus dada, eh maksudnya mengelus dompet…hehe… Sayang banget duitnya.. Saya lebih memilih beli dates di spice souk (toko bumbu) yang ada di Bastakiyah, pasar tradisional Dubai yang sangat eksotik dan terkenal itu (apalagi setelah film SATC 2). Atau, kalau anda sedang berada di area Gold Souk, ada juga nyempil satu atau dua spice souk disana. Beli kurma di souk tradisional itu jauh lebih murah harganya dibanding Bateel dates, karena disana dates dijual eceran.

IMG_20130403_112645

Baklava juga banyak dijual di spice souk. Tapi kalau anda datang dari Belanda, ngapain juga bawa pulang baklava ya?? Dengan modal 3 euro di kantong, dan usaha jalan sedikit ke toko Turki depan rumah, dapat deh sekotak baklava πŸ˜‰

IMG_20130403_112517

Pada postingan berikutnya, saya bagi cerita bagaimana kami mengisi 18 jam transit di Dubai… If you are interested, stay tune ya…

Go bagpacking and happy traveling !

Β debagpacker

Advertisements

One Comment Add yours

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s