Sevilla yang Mempesona (bag. 2)

Kunjungan ke Sevilla belumlah lengkap jika belum mengunjungi Plaza de Toros de la Maestranza, atau disebut secara singkat Real Maestranza. Plaza ini adalah arena matador yang paling terkenal di Sevilla.

Saya membenci pertarungan. Apapun itu. Walau dalam balutan kata ‘olahraga’ seperti tinju, saya tetap tak suka. Apalagi bertarung melawan banteng dimana kemungkinan salah satu pihak, atau bahkan kedua belah pihak, punya potensi untuk menjadi korban. Tapi mengunjungi Real Maestranza dan mengikuti tur di dalam museumnya, memberi saya perspektif baru dalam memahami para matador.

Jaman dulu, matador dianggap sebagai pahlawan di mata penduduk Sevilla. Karena jika matador menang dan berhasil membunuh banteng, daging banteng dibagikan ke seluruh penduduk Sevilla. Itu makanya matador selalu dielu-elukan dan didoakan kemenangannya oleh rakyat.  Bahkan di dalam gedung Maestranza tersebut, terdapat chapel tempat para toredo berdoa sebelum turun tanding. Sepanjang sejarah, terhitung sejak tahun 1760 sampai detik ini, hanya ada 3 orang Toredo atau matador yang terbunuh dalam pertarungan melawan banteng.

Pertarungan membunuh banteng ini dianggap sebagai sebuah pertarungan yang mengkombinasikan laga dan seni. Sekelompok juri menentukan keberhasilan seorang toredo dalam membunuh banteng. Seorang toredo dinyatakan sebagai pemenang bila berhasil membunuh banteng dengan tidak menyiksanya. Artinya, poin penting dalam membunuh banteng adalah the less painful, the better.

realmaestranza

Sebagai salah satu profesi dengan bayaran tinggi di Spanyol –bisa mencapai 300.000 euro per pertandingan–, banyak anak muda yang berlomba-lomba menjadi matador/toredo. Dan jangan kaget bila melihat foto mereka di pamflet pertandingan. Wajah para matador tersebut benar-benar easy in the eyes. Saya heran mereka lebih memilih menjadi matador daripada menjadi artis haha…

matador

*****

Satu hal yang begitu menonjol dalam pengamatan adalah gaya hidup penduduk Sevilla sehari-hari. Begitu santai. Sangat laid-back. Benar-benar menerapkan arti kata ‘siesta’ dengan penuh penghayatan ^___*

Siesta artinya istirahat siang. Bayangkan, sebagai pembeli di sebuah toko kaos, kami disuruh kembali 1 jam lagi karena jam tersebut adalah waktu siesta para karyawan. Tentu bisa ditebak, kami tak balik lagi hehe… Duduk gembira bersama suami dan krucil di sebuah kafe kecil di seberang katedral Sevilla, sambil mengunyah Churros yang terlebih dahulu dicelupkan di segelas coklat cair, aahhhhh sungguh suatu siesta yang lebih dari cukup…..

Oya, berada di Sevilla terasa kurang sah jika tidak berlaku sebagai Sevilanos. Caranya..?? Tentu saja dengan menikmati TAPAS. Bahkan untuk masyarakat Spanyol sendiri, Andalusia begitu terkenal dengan tapasnya. Kami tentu saja tak mau ketinggalan. Tapi jujur, saya menyerah. Lidah saya tak sanggup bergaul akrab dengan tapas setiap hari. Beruntung apartemen kami terletak di jantung kota Sevilla. Sedikit lompat, sampai di McD. Sedikit ngesot, sampai di Dunkin Donuts… Ahhh senangnya….. ^___*

*****

Walau tidak terkenal sebagai negara dengan penggunaan sepeda yang tinggi, tapi di Sevilla juga tersedia path khusus pengguna sepeda. Saya hanya berasumsi, pasti demikian juga di kota-kota lain di Spanyol. Tapi jangan membayangkan jalur bersepeda yang sangat jelas penampakannya, seperti misalnya di Belanda yang dibedakan oleh warna aspal dan gambar sepeda yang di cat berukuran besar di atas aspal. Di Sevilla batas jalan sepeda hanya ditandai oleh keping besi berukuran kecil berbentuk bulat, yang bila dilihat lebih dekat terukir gambar sepeda disitu. Saya bayangkan jika sedang bersepeda, rasanya agak susah mengenali tanda jalan ini. Seperti saya misalnya. Dengan kemampuan jarak pandang yang mulai terbatas karena usia *ooppss…* bagaimana bisa kelihatan tanda jalur sepeda jika ukurannya dibuat tidak lebih besar dari ukuran tutup lensa saya..??

IMG_8998-copy

*****

Saya bukan seorang pembelanja. Satu-satunya pemborosan terbesar saya adalah ketika berhadapan dengan toko online yang menjual segala kebutuhan fotografi. Online shopping membuat saya harus doa pengakuan dosa hampir setiap ke gereja hehehe…. Tapi toh, sebagai pembelanja awam seperti saya ini, berjalan menyusuri Calle Cuna merupakan hiburan tersendiri. Calle Cuna (atau jalan Cuna) bukan daerah perbelanjaan turis. Tidak seperti Calle Sierpes yang pamornya dimata pembelanja berat adalah seperti Champs Elysees Paris, Via Dante Milan, atau Ku’damm (Kurfürstendamm) di Berlin. Toko-toko di sepanjang Calle Cuna berukuran kecil, dengan merk yang tak pernah saya dengar sebelumnya. Tapi barang dagangannya sungguh lucu dan menggoda iman. Buat saya yang datang dari Belanda dimana segala sesuatu mahal harganya, melihat espadrilles yang ‘hanya’ seharga 10 euro sepasang, atau dekorasi rumah bermodel sangkar burung bermotif vintage seharga 8 euro –dimana di Belanda dijual dengan harga dua kali lipatnya–, saya benar-benar kalap mata. Hati sudah ingin beborong ini itu. Pelototan si ayah pun tidak mempan lagi. Jika tak ingat harus bayar kelebihan berat bagasi, saya pasti sudah melenggang ke kasir…

Karena terlalu bersemangat melihat-lihat kiri kanan, satu-satunya gambar yang saya punya tentang Calle Cuna hanya gambar di bawah ini. Sebuah gambar tak fokus, yang diambil buru-buru, dari hape oranye saya yang sering macet…

callecuna

*****

Hal menyenangkan yang kami lakukan demi sebuah alasan belas kasihan adalah menikmati Sevilla sambil duduk santai di kereta kuda. Awalnya saya mau protes, rasanya hati tak rela ayah harus merogoh kocek 45 euro untuk sebuah perjalanan berkereta kuda selama 45 menit. Ketika saya sudah mau berkomentar, ayah lalu buru-buru berbisik, “sudahlah… aku kasihan sama kusirnya….” Saya lalu tak jadi bersuara, dan berusaha menikmati perjalanan tersebut dengan hati yang gembira…..

Kunjungan ke Sevilla sebenarnya terjadi sudah lama. Tepatnya di akhir musim hangat, tahun kemarin. Menulis cerita ini, angan saya menari. Andalusia melambai-lambai memanggil… Ahhh… saya jadi rindu, ingin kesana lagi….

Foto lengkap tentang Sevilla bisa dilihat disini.

bagpacker-cremenavy

Advertisements

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s