Lembah Mosel (bag. 2)

Dari Cochem destinasi selanjutnya adalah Koblenz. Sama seperti kemarin hari, perjalanan kali ini pun disisipi dengan persinggahan singkat di kota kecil bernama Beilstein. Jika dilihat dari segi ukuran kota, saya rasa ini bisa dibilang desa.

Desa Beilstein masih termasuk dalam wilayah pemerintahan Cochem.

IMG_0182

Rencana mampir di kota kecil ini karena terhasut reklame besar-besaran tentang sebuah kafe di puncak bukit Beilstein dengan pemandangan panorama lepas sungai Mosel. Reklame tersebut berhasil menggoda kami untuk melipir sejenak di sana sekedar ngopi-teh sambil memanjakan mata dan meregangkan badan, sebelum tancap gas ke Koblenz.

Kota ini sangat tua, dilihat dari material gedung-gedungnya yang tampak berumur dan usang. Saya dan ayah menggemari kota yang tenang. Tapi Beilstein terlalu tenang, pada titik dimana saya malahan jadi tak nyaman, atau bisa dibilang sedikit takut. Apalagi karena kami tak bertemu satu orang pun disana. Tapi seperti yang saya sebutkan di cerita bagian pertama, inilah resikonya jika berlibur di hari raya (dan winter pula!!). Kami seperti masuk ke sebuah kota mati. Ditambah lagi ornamen kota cilik ini adalah tanaman jalar kering di sisi-sisi bangunannya. Saya berasa seperti melangkah masuk di studio film Sleeping Beauty… Ahhhh jadi mengerti kenapa pak Steves menyebut kota ini demikian. Mungkin dia punya pengalaman yang sama dengan kami, datang kesini di musim dingin 😀

Gagal ngopi-teh cantik di cafe cantik dengan pemandangan cantik, kamipun bergegas balik kanan menuju parkiran. Koblenz, kami datang…… !!

IMG_0481

Koblenz merupakan salah satu kota tertua di Jerman dengan tata letak yang unik. Namanya sendiri sudah mencerminkan keunikannya; diambil dari bahasa Latin Confluentes, yang artinya penggabungan dua sungai (sumber: wikipedia).

Menyebut nama Koblenz, orang pasti langsung menghubungkannya dengan tanjung Deutsche Eck, ujung kota yang menjorok ke sungai, dimana di area tersebut kedua sungai Mosel dan Rhein berpelukan… Memang Deutsche Eck merupakan salah satu spot kota Koblenz yang paling dikenal orang, selain Festung Ehrenbreitstein, sebuah benteng di atas gunung yang menghadap ke kota Koblenz, yang digunakan sebagai markas militer dan benteng pertahanan selama perang dunia I.

IMG_0435

Menyusuri promenade Rhein merupakan salah satu cara menghabiskan waktu yang murah, meriah, tapi mengasyikan. Promenade ini selalu ramai. Orang-orang yang lalu lalang pun bermacam-macam, baik turis lokal maupun turis internasional, baik yang berjalan bergandengan tangan maupun yang berjalan dalam sepi (halahh!!), dari yang berjalan santai hingga yang ber-jogging. Saya pikir, bahkan duduk melamun di promenade ini pastinya merupakan suatu kegiatan iseng yang menyenangkan, walau hanya sekedar memandangi kapal-kapal yang berseliweran… Hanya mungkin agak garing juga rasanya jika melamunkan cinta disini, karena pemandangan di depan mata adalah sebuah benteng perang tua, yang mungkin dulunya tempat penyiksaan para tawanan-tawanan perang…. Yang ada malah pikiran dihantui bayang-bayang perang, seperti yang sering ada di layar tivi hehehe…. 😉

Yang menarik, tersedia cable car (kereta gantung) yang membawa pengunjung dari Deutsche Eck menuju Festung. Cable car ini bukan cable car biasa, karena merupakan kedua yang terbaik di Eropa sesudah cable car di Swiss. Saya yang masih trauma dengan cable car sewaktu di Winterberg, langsung terasa betul perbedaan kenyamanannya….

Saya ingatkan, sebaiknya membeli paket kombi: cable car + tiket masuk Festung, karena jatuhnya lebih murah. We learn about this hard way…. ^____*

Karena liburan ini terjadi sudah lama, saya jadi lupa hal-hal detil yang menarik untuk diceritakan tentang kota ini. Nantilah, jika saya ingat, saya update lagi postingan ini….. 🙂

Album Lembah Mosel selengkapnya, bisa dilihat disini.

Advertisements

6 Comments Add yours

  1. Messa says:

    melihat foto-fotonay serasa di negeri dongeng mbak Pat 😀

    1. Iya Mes… apalagi klo nikmatinnya sambil gandengan ama pangeran yak hihihiiii….. 😉

  2. Poto-potonya bagus-baguuuss… keren Mbaa… Ini sih potografer profesional sudah 😀

    1. aduuuhhhh…. saya benemin muka ke pasir nih, malu dibilang potograper propesional hahahhaaa…. makasih udah mampir disini yaa, btw…. ^_____^

  3. halo mbak patricia, salam kenal
    saya suka banget ngikutin cerita perjalanannya mbak, karena aku emg lagi nyusun itin buat traveling ke schengen.
    oya foto2nya bagus mbak, pake kamera + lensa apa ya kalau boleh tau 🙂

    1. Hai Niken…. salam kenal juga…. ^____^
      makasih yaa udah mampir… wah, salah satu bagian liburan yg paling saya suka tuh, nyusun itinerary hehehehee….
      foto2 di blog ini ada yg pake 550D, ada yg pake 6D, ada yg pake hape doang hehe… lensanya juga variatif… untuk foto2 di cerita2 lama, aku pake wide lens. skrg banyakan pake telephoto zoom lens. diluar cerita jalan2, aku pake prime lens dan/ato macro. khusus untuk postingan funphoneography, aku pake lensa khusus hape… 🙂
      kalo nanti udah traveling ke schengen, jgn lupa bagi2 cerita yaaaa ^_____^
      sukses !!

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s