Akhir Pekan di Flanders | Bag. 1

 

Prolog:

Sebenarnya berakhir pekan di Flanders bukan merupakan pilihan pertama. Saya maunya ke tempat lain. Bahkan itinerary pun sudah siap, tinggal angkat koper, berangkat. Tapi karena sesuatu yang harus saya kerjakan di Bruges pada akhirnya menuntut kami harus kesana. Saya sempat sedikit kecewa karena hal ini, mengingat Bruges dan Ghent sudah pernah kami kunjungi di tahun 2008. Bukan hanya perubahan tujuan yang mengesalkan saya. Dua hari menjelang liburan, duo krucil tiba-tiba demam. Bahkan sehari sebelum hari H, si ayah pun ikut-ikutan demam. Tapi apa boleh buat, kami tetap nekat berangkat walau si abang belum pulih benar *Bukan contoh yang baik. Jangan ditiru di rumah!!* :p


IMG_4943edit

Karena letaknya diantara Brussel dan Bruges, Ghent menjadi salah satu incaran turis bila berkunjung ke daerah bagian Flanders.

Sebenarnya tidak jauh berbeda dengan Bruges, pariwisata Ghent pun menjual kecantikan kanal sebagai salah satu obyek wisata penting disana. Namun berbeda dengan Bruges yang tenang dan teduh, Ghent terasa lebih ‘hidup’. Mungkin hal tersebut didukung fakta bahwa Ghent merupakan salah satu kota pelajar di Belgia. Itu menyebabkan kehidupan sehari-hari disana terlihat lebih modern dan upbeat. Salah satu akibat modernisasi kota Ghent adalah tram. Luas kota yang besar dengan jumlah penduduk yang cukup banyak rasanya menjadi alasan kehadiran tram disana. Tapi menurut saya, baik itu di Ghent maupun di tempat lain, tram merusak kecantikan kota. Saya sedang merujuk pada kabel trem yang berseliweran, seperti pada foto dibawah;

IMG_4845

Saya bukan seorang fotografer profesional, hanya seorang hobbyist yang sedang mendalami lifestyle photography. Makanya jangan heran kalau saya sempat kesal di Ghent. Maklum, foto lanskap dan arsitektur bukanlah forte saya. Sebagai seorang amatiran, saya agak susah mengambil foto sebuah gedung, dengan kabel trem yang nampang di kiri kanan. Selain itu, menurut para ahli, tips sukses sebuah foto lanskap dan arsitektur adalah kesabaran. Dan saya tak sabar menunggu hingga orang-orang (baca: turis) selesai lalu lalang. Lebih baik saya masukkan kamera ke dalam tas dan melenggang pergi, daripada harus diam di spot yang sama, dengan sabar menanti hingga para manusia yang ‘menghalangi’ pemandangan cantik, hilang dari pandangan…. :p


IMG_4869edit

Graslei dan Korenlei merupakan tempat paling cantik –namun paling padat– untuk menikmati kanal Ghent. Pemandangan kanal sepanjang Kraanlei juga tak kalah cantiknya. Jembatan St. Michael merupakan titik paling strategis untuk menikmati pemandangan indah Graslei dan Korenlei, ataupun untuk mengagumi kemegahan gereja St. Nicholas dari jauh. Sekedar duduk manis di pinggiran kanal Graslei sambil menunggu matahari turun, merupakan hal yang menyenangkan. Apalagi jika dilakukan berdua pujaan hati…*wink-wink*

Saya sempat janji pada diri sendiri untuk kembali lagi kesini. Saya penasaran ingin memfoto tempat ini di malam hari… Tapi itu tentu saja nanti, jika saya sudah menguasai night photography. Sekarang, hasil-hasil foto malam saya masih berantakan… Sepertinya saya tak bersahabat baik dengan kegelapan *ocehan tak penting*

IMG_4876


Hal lain yang menarik untuk dikunjungi di Ghent adalah kastil Gravensteen. Menurut saya, mengambil foto kastil ini dari depan sangatlah sulit karena posisinya tepat di pusat keramaian kota yang padat dengan manusia, mobil, dan tram yang lalu lalang di depannya. Untungnya tanpa sengaja kami menemukan suatu pojokan sepi di belakang kastil, tempat perahu milik penduduk lokal bertambat. Untuk hal-hal ‘ajaib’ seperti ini, saya dan suami punya istilahnya; “ini favor Tuhan buat foto bunda..” hahahaa….. 😉

Walau foto di bawah adalah kastil tampak belakang, tapi lumayan kan…. ^____^

Bagi yang senang dengan arsitektur tua, coba mampir di Patershol, sebuah kawasan medieval yang letaknya tidak jauh dari kastil Gravensteen…

Oya, rasanya perlu saya garisbawahi bahwa restoran di Ghent begitu beragam. Untuk hal ini saya membandingkannya dengan Bruges. Sekali lagi saya menebak, mungkin hal ini disebabkan karena banyaknya pelajar yang datang ke Ghent dengan kebangsaan yang berbeda-beda. Terus terang, mata saya dan suami berbinar-binar jika melihat sushi restoran. Dan di Ghent, kau akan temukan restoran sushi atau bar sushi dimana-mana (selain restoran Cina, tentu saja hehe). Bahkan ajaibnya, kami melihat sebuah restoran ramen ketika sedang kebingungan mencari tempat parkir kosong. Karena berukuran kecil dan diisi pengunjung bermata sipit, kami simpulkan tempat tersebut menjual ramen otentik. Kami pun bela-belain kembali ke tempat itu demi memuaskan hasrat lidah terhadap semangkuk ramen. Sudah berjalan tertatih-tatih karena jauh, sambil membawa beban kamera yang tidak ringan (setidaknya buat saya!), dengan si noni dalam gendongan ayahnya dan si abang yang mulai terlihat keletihan, ehh ternyata restoran itu tutup jam 6. Apes!!! Kami langsung balik kanan mencari halte tram. Tak kuat lagi berjalan ke tempat parkiran…. What an effort for a bowl of Japanese ramen…..

Saya tak sempat mencoba coklat produksi Ghent. Mata saya kelayapan mencari chocolaterie tapi tak kelihatan. Entah mungkin saya yang harus ganti kacamata atau memang di Ghent kurang banyak chocolaterie. Yang jelas saya ‘hanya’ melihat toko coklat Leonidas di kanan kiri. Bukannya sok tak mau Leonidas. Walaupun itu coklat produksi Belgia, tapi berhubung produksinya masal jadi tak apalah liburan kali ini saya agak sedikit sombong sama Leonidas…. 😉


Salah satu yang tak boleh terlewati jika di Ghent adalah mencoba manisan andalan Ghent, yang diklaim oleh penduduk setempat hanya ada di Ghent. Namanya Cuberdon atau Nose. Saya tak sempat bertanya pada penjualnya mengapa namanya nose. Saya hanya menebak-nebak, mungkin karena bentuknya yang mirip hidung (tapi yang modelnya agak pesek seperti saya hahaha).. Saya membeli nose di pasar jumat, Fridays market, pada hari sabtu 😉 hahaha… Karena takut lidah tak berkenan, saya membelinya per satuan, dimana satu nose harganya 25 euro sen. Kalau saya tidak salah ingat, untuk 250 gram nose harganya 5 euro (koreksi saya jika salah. Maklum ingatan seorang mamak mulai susah dipercaya…). Nose rasanya manis, sebuah kombinasi rasa antara raspberry dan strawberry. Mengunyah nose, rasanya begitu familiar. Saya lalu teringat permen di Indonesia, namun sayang saya lupa namanya…. (maklum, ingatan mamak-mamak…..hehehee….)

IMG_4898edit

Album foto Flanders silahkan lihat disini.

Klik disini jika tertarik melihat album lama Ghent, produksi bunda tahun 2008 hehehe….

Advertisements

9 Comments Add yours

  1. wahh.. keren kanalnya. coba saja ada yang kyk gitu di Jakarta :D.

    1. siapa tau kan ko Ahok bikinin yg kyk beginian di Jkt hahahaaa….. btw, kanal disini masih kalah cantik sama kanal Bruges… foto2nya msh di edit… mungkin minggu depan aku posting… liat dehh… *promo wkwkwkk*

      1. Bener juga sihh. Tp emang kanal2 disana kecehh dah. One day pasti kesanalah :).

  2. Mrs Setyawan says:

    duhh liat smu akoleksi fotonya bkn iri jd kangen tinggal di europe lg 😦

    1. Punten baru jawab… lagi (sok) sibuk sama urusan irt hehehe… dulunya mrs tinggal dimana?? pindah aja lagi ke erupa… hehehhee… ^_____^

      1. Mrs Setyawan says:

        Nahhhh ini lg di yurop mbak, tp mesti balek lagi neh daster udh manggil2 ahaha

      2. emang ke yurop ga bawa daster tah..?? wkwk… ^^

      3. Mrs Setyawan says:

        Gak bawa ahaha, disini begaya pakai celana

      4. Mrs Setyawan says:

        gak bawaaaa krn lg winter besok kl kesini somer ae yaa bawa sklian poto2 kayak model daster ahahaha

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s