Sepotong Cerita Pulang Kampung

20140816_064444Kurang lebih dua bulan saya tidak meng-update blog ini. Dengan hati yang riang dan wajah sumringah saya bilang, kemarin kami sekeluarga mudik ke Indonesia..

Di Indonesia saya berkesempatan ‘menikmati’ secara langsung bagaimana pesta pernikahan adat Batak berlangsung. Saya orang Manado aseli, yang belum pernah ‘terkontaminasi’ dengan pesta pernikahan adat-adat lain sebelumnya. Karena itu pengalaman ini saya sebut priceless….

Saya benar-benar ternganga menyaksikan pesta pernikahan adat Batak. Luar biasa sekali…. Maksudnya, luar biasa sekali duit yang mengalir hehehe… Bagi-bagi undangan, mesti ada duit diselip dalam kartu. Selagi pesta, mesti ada duit di nampan buat dibagi-bagi. Setelah memberi kado (dalam bentuk ulos), si pemberi kado mendapat amplop dari keluarga yang isinya, lagi-lagi, duit. Sedang tamu menari-nari, keluarga pun ‘nyawer’ bagi-bagi duit. Sudah seperti ruangan Wallstreet saja saya pikir, uang mengalir di satu lantai…. Hehehehe…
Saya lalu membayangkan pesta pernikahan orang Minahasa. Tidak perlu berbagi duit, tidak harus memakai emas dan berlian asli, tidak juga menggunakan songket harga jutaan rupiah. Tapi yang penting, makanan harus berlebihan. Itu saja. Pantang bagi orang Manado membuat pesta dimana sajian makanan kurang atau tamu yang datang tak kebagian makanan. “Bekeng malo keluarga joo….”, begitulah kurang lebih yang ungkapan yang ada kalau hal tersebut terjadi.

Saya tidak sedang mengutarakan kelebihan atau kekurangan satu suku dibandingkan suku lain. Saya sadar betul, salah satu keindahan Indonesia adalah keragaman adat istiadatnya…. Adat setiap suku di Indonesia pastinya ada kekurangan tapi juga memiliki banyak kelebihan. Di luar aliran uang nan ‘heboh’ tersebut, pesta adat Batak menurut saya sangat unik. Terasa sekali persatuan dan kesatuan, baik diantara kaum keluarga semarga, maupun tidak semarga. Siapapun yang hadir diberikan perhatian dan kesempatan yang sama. No one is left behind. Semua mendapat bagiannya.

20140816_125204

Kembali ke soal mudik, benar kata lagu, Indonesia Tanah Air beta…. Sesubur-suburnya tanah Belanda, sejernih-jernihnya air Hollandia, tetap hanya Indonesia, tanah air saya.. Tiga tahun terakhir ini, puji Tuhan kami selalu mengambil waktu untuk pulang menjenguk Indonesia tercinta. Tapi entah mengapa baru sekarang saya tergerak untuk menulis kesan saya tentang Indonesia, setelah hampir 9 tahun ‘bertapa’ di tanah air orang….

Memang benar tingkat kemiskinan di Indonesia secara relatif tinggi. Tapi tak bisa disangkal, tingkat kesejahteraan di Indonesia pun melesat tinggi, secara relatif (IMHO). Saya mungkin sedikit bias menilai ini. Mungkin penilaian ini sifatnya parsial, dengan contoh sampel yang tidak mewakili semua keadaan. Tapi sungguh, menurut saya tingkat hidup orang Indonesia sudah cukup setara dengan keadaan di Eropa. Contohnya, untuk sekali makan di mal kita harus merogoh kocek minimal 300 – 500 ribu rupiah. Sama nilainya dengan sekali makan ke restoran di Belanda. Lucunya (jika tidak bisa dibilang ironis), rata-rata orang Indonesia yang tinggal di Belanda tidak membiasakan diri makan ke restoran. Masak sendiri di rumah jauh lebih murah. Berbeda dengan orang Indonesia yang sangat senang ngumpul di mal dan makan di restoran, (hampir) setiap hari….

Gaya hidup orang Indonesia memang hebat…….

Ketika saya ke sebuah toko membeli lotiondoekjes buat krucil, saya kaget harga tisyu basah tersebut setara nilainya dengan harga barang yang sama di Belanda, sekitar €1.50 – €2 per stuk. Dan barang tersebut adalah yang paling murah harganya diantara jejeran tisyu basah yang dipajang disitu (mereknya tak bisa disebut, nanti saya dikira promosi hehe).
Berbeda dengan di Belanda, untuk sebuah tisyu basah kami masih memiliki beberapa opsi yang lebih murah, dimana harganya kurang dari €1 per stuk…

Gaya hidup orang Indonesia memang hebat…….

Dalam kesempatan kumpul-kumpul dengan teman-teman lama, satu hal yang kami perhatikan adalah mobil mereka hahaha… Saya sebenarnya kurang memperhatikan, karena saya bukan pecinta mobil. Jangan tanya soal merek, saya hanya tahu Toyot*, merek mobil sejuta umat hahhahaa…. Untuk hal satu ini, komentar datang dari suami saya. Rata-rata teman-teman kami datang dengan mobil bermerek keluaran terkini. Sungguh berbeda dengan suami saya yang hanya berkendara Opel Safira sehari-hari, padahal level karir dan gaji mereka kurang lebih sama (jangan kaget, buat sahabat-sahabat dekat, mendiskusikan jumlah gaji itu biasa hehehee….).

Berbeda dengan orang Belanda yang menganggap mobil adalah alat transportasi fungsional, bagi orang Indonesia mobil merupakan kombinasi fungsi dan prestise. Di Belanda (ini hanya pengamatan saya, anda bisa tak sependapat), orang kurang ‘perduli’ dengan merek dan keadaan mobil. “De belangrijkste is van A tot B”, kata mereka. Yang paling penting dari titik A sampai ke titik B, kurang lebih begitulah terjemahan bebasnya. Makanya rata-rata mobil yang berseliweran di Belanda adalah mobil-mobil bermerek ‘biasa’ atau yang tahun produksinya cukup tua. Itupun mobil tangan kedua alias second hand. Mobil baru dan (biasanya) bagus hanya dimiliki oleh tiga kategori pemilik; 1. orang-orang kaya raya, pemilik bisnis, CEO sebuah perusahaan, dan sejenisnya, 2. orang-orang tua di masa pensiun, yang menikmati hasil tabungannya selama bekerja dengan cara (salah satunya) membeli mobil baru, dan 3. orang-orang yang bekerja sebagai konsultan, dimana pekerjaan mereka sehari-hari mengharuskan mereka untuk travel dari kota A ke kota B, sehingga mereka mendapat fasilitas mobil baru dari kantor dalam bentuk leasing. Diluar kategori tersebut, hampir pasti mobilnya biasa-biasa saja. Yang penting semua fungsinya jalan. Lain dengan orang Indonesia. Memiliki mobil baru dan berkelas itu sepertinya biasa, bahkan untuk seorang yang kerjanya biasa-biasa. Jangan emosi dulu, saya tidak menggarisbawahi hal ini sebagai sesuatu yang negatif. Saya melihat bahwa keadaan di Indonesia memang menuntut orang untuk seperti itu. Saya bisa bayangkan, jam 5 pagi sudah di jalan, lalu jam 9 malam baru sampai di rumah lagi. Tentu saja mobil sudah seperti rumah kedua. Waktu mereka lebih banyak habis di mobil daripada di rumah. Makanya masuk akal jika mobil orang Indonesia mewah dan nyaman, walau agak sedikit berlawanan dengan keadaan rumah hehehe… Berbeda dengan orang Belanda yang lebih suka berlama-lama di rumah daripada di jalan raya (baca: mobil). Itu sebabnya rumah mereka sangat rapi terawat, berbeda dengan keadaan mobilnya hehehhee…
Anyway, apapun alasannya, saya tetap mau bilang: Gaya hidup orang Indonesia memang hebat…….

Sepertinya postingan ini jadi panjang, padahal niat saya hanya menyampaikan beberapa kesan tentang Indonesia. Saya akhiri postingan ngasal ini dengan cerita highlight liburan ke Indonesia kemarin. Buat saya, highlight perjalanan kami adalah menikmati becak, naik bis, dan belanja di pasar. Belanja di mal..?? Ahh terlalu mainstream hahhahaa…. *becanda!!*
Dalam tiga kali ke Indonesia, baru di mudik kali inilah kami sadar bahwa membawa euro ke Indonesia baru terasa betul nilainya jika berbelanja di pasar…hahaha….

20140817_135150

Moral cerita ini: please…tolong…., sahabat, teman, saudara, dan handai taulan dimana saja berada…. Jangan lagi ada kalimat, “…. kalian kan dari Eropa… banyak euro nyaa…” Tolong dibaca lagi uraian diatas… Hidup kalian lebih ‘boros’ dibandingkan kami disini yang berhemat dengan susah payah 😉

Hidup orang Indonesia !!!! ^_____^

Advertisements

29 Comments Add yours

  1. Lorraine says:

    Ha…ha…setuju Pat sama tulisan ini. Memang gila ya gaya hidup dikota besar di Indonesia, level harganya sama seperti disini.

    Binyo kong beking pesta so musti banyak itu makanan & kukis 🙂

    1. Iya bener Lorr…. apalagi keadaan lingkungan bikin masyarakat Indonesia jadi makin konsumtif…. makanya bersyukur tinggal disini… bisa belajar hemat hahaha… 😉

      Iyooo musti banyak tu makanan, kukis, en plastik for bungkus2 hahahaa…. ^____^

  2. Betul- betul soal mobil apalagi tuh.. aku sih dari waktu msih di jakarta pun, mobil asal ada AC dan radio, dan jalan, gak penting pake mahal2 hahaha. Disini pun AC gak penting jadi radio aja. 🙂

    Sebenernya sih klo orang Indonesia belanja di pasar, aka mendukung ekonomi kecil, mungkin bakal lebih maju yah? hihihihi. Kalau disini belanja di pasar justru lebih mahal dari supermarket, karena lebih fresh..

    1. Mungkin saja mereka juga belanja di pasar lho… Kan yang belanja bukan mereka tapi mbaknya hehehee… Btw, hebat ya orang Indonesia, pegawai negeri aja di rumah punya mbak sampe dua lhoo…. *amazed*

  3. rintadita says:

    sad but true, gaya hidup orang Indonesia memang……. 😦

    1. he ehh… makanya perasaan bittersweet, antara sedih dgn kehidupan disana yg makin konsumeristis tapi juga ikut senang krn berarti taraf hidup masyarakat disana makin meningkat…. :-/

  4. Messa says:

    mbak Patricia cantik banget dalam balutan kebaya 🙂 dan yah begitulah pesta adat Batak 😀 semoga tidak kapok ya 😀

    1. wahh makasih ya Messa…. kalo saya bisa ngeles dikit *hehe*, yg bikin cantik makeup nya koq hehehe… tapi yaa itu…. ongkos makeup dimahalin dgn alesan, “kalian kan banyak euro nyaa” hadeeuuhh….

      anw, ga kapok koq… asal jgn disuruh nyawer lagi hahahaa… ^____^

      1. Messa says:

        hahahh.. lain kali dipelototin aja yang ngomong “kalian banyak euro nya” itu 😀

      2. ssttt… ga enak mau pelototin, ybs msh sodara jg hahahhaaa… *tepokjidat* ^_____*

  5. Emang kalo kita amatin di indonesia ini semua ada dari segi finance nih saya bicara. Orang ter ter kayapun ada di indonesia. Org ter ter miskinpun ada diindonesia. Salah satunya iklan properti bertuliskan hanya 1M. Hanya…. Oh God, mengerikan kata2 itu. Tp ttp aja laku.

    1. wahhh… Nandito… serius tuh ada iklan kek gitu??? hebat yaaa… 1M buat org Indo ‘hanya’ …..

  6. kayka says:

    tulisan yang inspiratif sekali.

    tapi betul orang indonesia hebat 🙂

    saya ngerti berhemat dan menghargai uang setelah tinggal disini aja. soalnya pemasukannya udah pasti segitu. gak ada uang kaget dan sejenisnya…

    salam
    /kayka

    1. Makasih Kayka…. sama, aku juga jadi lebih menghargai uang stlh tinggal disini… krn ga ada uang misterius, jadi terasa betul ya susahnya cari duit hehehee… iya, walau bagaimanapun orang indonesia itu hebat… kita juga termasuk kan…??? hehehee…. ^___*

  7. Suka banget sama artikel ini 😉 Memang gaya hidup di kota besar di Indonesia cukup mengejutkan. Kadang mikir gimana itu bayarnya…saya tahu ada beberapa teman di Jakarta yang gajinya lumayan besar karena mereka bekerja di organisasi internasional, mungkin gaji di atas rata-rata itu dapat mempengaruhi gaya hidup. Di satu sisi saya dengar juga kemudahan kartu kredit memiliki dampak pada pola hidup konsumtif. Ada kenalan yang mengalami banyaknya hutang dari kartu kredit untuk menopang gaya hidup di Jakarta… Padahal di Belanda, saya usaha bener supaya gak make karu kredit 😀

    1. Makasih Indah…. saya suka juga sama komennya hehheee… iya bener, kartu kredit sbnrnya membuat finansial kita jd ga sehat. walau memang ada saat2 kita terbantu dgn kartu kredit, tapi tetap saja membayar dgn kartu kredit = ngutang ^_____^

  8. Nina says:

    Kalo Indonesia di wakili oleh Jakarta ya memang seperti itu royal banget….. perhitungan ekonominya ga ada sama sekali, makanya teori ekonomi ga ada yang cocok. Tapi jangan di bandingin dengan orang Belanda dong… he he he, tanpa ada maksud rasis, bukannya orang belanda terkenal dengan “sangat berhati hati dengan menggunakan uang nya (terjemahan populernya = pelit)”… itu cerita ibu saya yang pernah tinggal di belanda tahun 1960 an….
    Saya juga jadi ingat jaman SD dulu, disekolah selalu di gembar-gemborkan bahwa Indonesia negara kaya… sumber alamnya banyak… Itu sebabnya “kita” bagi-bagi duit…

    Nina

    1. Iya bener mba… semua prinsip ekonomi kyknya unapplicable klo di kota katropolitan tsb hehehe… Kebetulan kami kalo mudik tinggal di 3 kota yg berbeda; jakarta, bandung, en manado. Jd pengalaman diatas merupakan penggalan pengalaman dari tiga tempat tsb. Emang sih, msh blm bisa dijadikan sampel yg mewakili indonesia secara penuh hehehe… Anw, saya bisanya ngebandingin sama Belanda mba.. Saya ga berani ngebandingin sama kota lain dimana saya ga punya pengalaman menjadi penduduk lokal hehehee…
      Bener cerita ibu mba, org Belanda itu mmg perhitungan dalam soal keuangan. Tapi kalau saya pribadi sih, lebih seneng orang Indonesia dikenal pelit (baca: perhitungan) daripada dikenal memiliki gaya hidup besar pasak drpd tiang….hehehee….
      Bener lho mba… sampe skrg saya ttp yakin bahwa negara kita adl negara yg kaya…. Sayangnya para penguasa hanya sibuk memperkaya diri… *nelongso*

  9. Halo mbak, salah kenal. Aku dapat link blog dari postingan mbak Yoyen. Aku setuju banget, gaya hidup orang Indonesia emang luar biasa dan negeri ini memang memanjakan dalam banyak hal. Sayangnya, banyak yang berpikiran gaya hidup di Eropa itu sama dengan di Indonesia, atau malah lebih wah dari Indonesia, makanya sering dianggap kaya dan dipaksa nraktir 🙂

    1. Halo mba Ailtje… Setuju banget sama komennya… Btw, yg bini org indo aja sering dianggap kaya dan dipaksa nraktir, apalagi yg bini bule yaa hihihiii ;)….
      Btw, salam kenal juga ^______^

  10. Beneeerrrr!!! Udah gitu mereka yang di Indo di rumahnya selalu ada yg bantuin, nah yang hidup di tanah orang? Semuanya hrs dikerjain sendiri

    1. Hahahaa… bener mba…. Mereka disana ada si mba sama babysitter.. Belum lagi ortu sama mertua yg suka “rebutan” jagain cucu hehehe… Lha kita disini kerjaan rangkap, jadi istri iya, jadi ibu iya, tapi jadi supir juga iya, en jadi inem juga pasti iya hahahaa…. *balada.sahm.di.tanah.org*

  11. kurisetaru says:

    Hai mbak, salam kenal, aku juga lagi tinggal di Belanda nih, lagi merantau jadi mahasiswa. Wah ternyata orang Manado juga. Seneng ketemu sesama Manado!

    1. Konnichiwa Kurisetaru hehehe… Salam kenal jg… Wah org Mdo jg ya?? Tabea!!!! Btw ini Mdo asli ato Mdo KTP ?? Hehehee..:. Crysta di Blnda dmna?

      1. kurisetaru says:

        Ga asli, campuran… papaku Manado mamaku Sunda, tapi dirumah lbh kental budaya Manado. Makan tiap hari juga makanan Manado. Aku di Leiden 😀

      2. Jauh yaa Leiden… Studi hukum ya?? Kpn2 kalo lagi main ke seputaran nijmegen, mampir atuh di mari… Ntar dimasakin makanan Mdo hehehe (ato ngomong Sunda sama suamiku haha) 😄

      3. kurisetaru says:

        Ngga, aku belajar Asian Studies. Ada temenku juga yg tinggal di Nijmegen. semoga kapan2 mampir… hehehehe

      4. Ditunggu yaa… 😃😃

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s