Ragam kulinari Strasbourg

Terus terang, menurut ayah lidah bunda sangat ‘kampungan’. Tenang saja, saya tidak tersinggung. Sejujurnya, saya pun sangat setuju dengannya hahaha… Sebab, –minimal sampai habis masa bulan madu berlalu ;)–, makanan terenak menurut ukuran lidah saya hanyalah masakan Manado. Hands down!! :p

Menikahi ayah yang hobinya makan enak, barulah lidah saya mulai banyak ‘digaulkan’ dengan makanan Indonesia yang ternyata kaya ragam itu. Perjalanan ke Strasbourg kemarin selain mengunjungi pasar natal, juga terselip tekad kuat si ayah memperkenalkan kulinari Perancis pada lidah bunda yang sangat A-C-I ini. Saya cukup percaya pada kredibilitas lidah ayah karena seringnya dia tugas kantor ke Caen.

IMG_5881copy
Malam pertama kecolongan mampir di resto Korea hihihi… ^____^

Karena letak geografis maka kulinari Elsass memperoleh pengaruh kuat dari Jerman. Persatuan dua kultur tersebut menghasilkan suatu perpaduan yang unik. Bayangkan saja, citarasa lezat yang dimiliki oleh kultur makanan di Perancis, dipadu dengan budaya porsi ‘jumbo’ yang dimiliki Jerman. Alhasil, penikmat kulinari Strasbourg mendapat pengalaman kulinari yang paripurna; kepuasan untuk lidah sekaligus kekenyangan untuk perut ^____^

Selain variasi sosis sebagai bukti persatuan selera antara Perancis dan Jerman, spesialisasi dapur Elsass yang terkenal adalah tarte flambée; versi lain dari pizza yang dibuat beradonan tipis dan garing, dibakar dalam oven api tradisional, dengan pilihan taburan beraneka ragam, baik manis maupun asin.

Kami sempat menikmati keduanya, versi manis dan asin. Kami sepakat tak bisa menentukan kesukaan. Kedua-duanya setara enaknya.

Perjalanan kami menyisir pasar natal khusus jajanan kue, dibuka dengan sepotong Bretzels empuk (atau yang juga umum disebut pretzels), dan Kugelhopf. Saya sempat tertipu dengan kugelhopf ini. Dari penampilannya, saya pikir ini kue yang sama seperti cake brudel di Manado. Ternyata salah. Tekstur dan rasanya sangat mirip roti brioche.

kougelhopf

Melegakan tenggorokan sekaligus menghangatkan badan, saya dan ayah menenggak segelas vin chaud hangat. Vin chaud adalah jawaban orang Perancis untuk Glühwein Jerman. Seperti halnya glühwein, vin chaud merupakan minuman anggur hangat yang direbus dengan rempah-rempah. Namun berbeda dengan glühwein yang berbahan dasar anggur merah, vin chaud Strasbourg (dan mungkin kota-kota lainnya di regio ini) berbahan dasar anggur putih. Minuman anggur putih merupakan trademark regio Alsace, regio terpenting ketiga di Perancis untuk urusan produksi minuman anggur.

Dibandingkan dengan glühwein, saya dan ayah lebih suka vin chaud. Karena alasan itu, saya coba membuat vin chaud abal-abal di rumah, untuk dinikmati di malam natal. Rencananya, mau saya posting resep vin chaud tersebut di Instagram. Bila ada yang tertarik, silahkan intip IG saya (tapi nanti yaaa…jangan sekarang hehehe….)

 

IMG_6277-copy
Escargot tanpa tempurungnya

Escargot pasti sudah familiar. Kalau tête de veau?? Pernah dengar menu yang satu ini..?? Ini masakan khas Elsass. Saya peringatkan dari sekarang, anda yang vegetaris atau anggota PETA, segeralah menjauh… Masakan ini bukan buat anda ^___* Kata pelayan restoran, bahkan tak semua penduduk lokal bisa (baca: mau) melahap hidangan ini. Keningnya mengernyit tanda tak yakin, ketika ayah mengangguk pasti memesan makanan, yang konon merupakan favorit Jacques Chirac ini.

Sebenarnya dari penampilannya bisa dibilang ini masakan biasa, apalagi untuk orang Indonesia seperti kita yang pelahap apa saja hehehe. Tête de veau hanyalah semangkuk sup hangat yang berisi daging dan sayuran. Pas sekali khususnya jika dilahap di musim dingin. Yang membuat makanan ini berbeda dari sup umumnya adalah daging yang digunakan; diambil dari kulit kepala domba muda ^____^

IMG_6284-copy
Tête de veau

Foie gras adalah menu makan malam saya, yang disajikan di atas potongan buah-buahan. Foie gras, makanan populer regio Alsace, adalah hidangan dari hati bebek atau angsa. Karena saya pada dasarnya sangat suka makan hati (dalam arti yang sebenarnya hehehe), tak sulit untuk saya menyukainya. Yang saya tidak tahu, adalah “adegan” yang terjadi di belakang layar bagaimana foie gras tersebut bisa tersaji di hadapan saya. Ternyata, bebek atau angsa dipaksa makan hingga hati mereka membesar lalu mati. Miris juga membayangkan ada makhluk Tuhan yang tersiksa agar makhluk lainnya lahap dan bahagia. Saya mengetahui fakta ini dari kolega kantor ayah, beberapa hari kemudian setelah pulang. Mendengarnya perut saya bergejolak. Isi usus saya seperti meletup-letup hendak keluar.. Saat itu saya bertekad tidak akan pernah lagi menyentuh makanan tersebut. I’m so against you, foie gras …. ‼‼

IMG_6282-copy
Foie gras, dengan potongan buah-buahan …

Jahatnya, foie gras malah menjadi salah satu buah tangan terkenal di Strasbourg… Di jual dimana-mana, dari yang hanya beberapa belas euro sampai yang dibandrol seharga sekian ratus euro…. Oh my……. *sedih*

Sebelum tutup, saya sela cerita ini dengan cerita tentang abang. Hubungannya dengan kulinari tetap masih ada, walau sangat sedikit hehehe….  ^____*

Sejak termasuk dalam pemantauan Adviesbureau voor Hoogbegaafde kinderen in het basisonderwijs, saya dan ayah jadi makin sering melatih abang, baik mengajarinya tentang konsep dasar ilmu, maupun mengajaknya bermain melalui permainan yang mengasah otak. Seperti hari itu, mungkin saking bersemangatnya si ayah, dia mengajarkan abang cara membaca peta. Awalnya saya melotot. He’s too young to understand that, ayah….! Ayah cuek saja… Tentu saja ini bukan peta sebenarnya, tapi peta abal-abal, just for fun, untuk pengunjung pasar natal. Sedang mengitari pasar, tiba-tiba abang menagih janji saya membelikannya es krim. Saya bingung, di sepanjang jalan tak kelihatan satu pun penjual es krim . Mau beli dimana…? Dan abang pun mulai beraksi. Ternyata, –sesudahnya baru saya tahu–, hari sebelumnya abang sempat melihat sebuah toko es krim yang letaknya tak jauh dari Kathedral. Dengan berbekal peta, yang dibacanya sendiri tanpa tuntunan kami, sampailah kami di toko es krim tersebut. Saya mengetik paragraf ini dengan penuh kebanggaan seorang bunda terhadap anaknya… ^_____^

IMG_6225-copy
Abang dan toko es krim ‘penemuan’nya ^____*

Mengutip kata ayah, “jangan takut memperluas wawasanmu soal makanan. Hal terburuk, jika ternyata itu tak sesuai lidahmu, kau bisa memesan makanan lain atau sesudahnya mampir ke restoran Cina….” [Ayah, 2015]

Siippp ayah… Akan ku coba praktekkan pesanmu, sejauh itu bukan foie gras…” ^____^

Mvg,

debagpacker-signature

Advertisements

28 Comments Add yours

  1. denaldd says:

    Pat, aku tau ttg Foei gras kira2 sekitar 7 tahun lalu, pas ada ditayangan Oprah Winfrey. Ada dokumentasinya juga bagaimana cara mendapatkan hati itu. Di youtube kayaknya ada Pat. Semacam sapi glonggong lah ini. Kasihan😓

    1. Aku baru tau Den… Maklum newbie di dunia kuliner 😁😜… Mau liat di youtube rasanya ga tega eii… Ngebayanginnya aja udah gimanaa gitu yaa… 😥

  2. bebe' says:

    Aku ya ngiler ngeliat foto2nya. Pdhl kalo dikasih belum tentu makan 😂😂.

    1. Untung ngiler yaa Be, bukan malah memicu rasa mual hihihii 😜😆

  3. Baca2 ini aku jadi rindu Natal deh, dingin-dingin meluk gelas mulled wine.

    Satu hal yang aku ga paham kenapa ya foie gras itu gak dilarang, dari jaman jadi volunteer PETA 12 tahun lalu sampai sekarang masih eksis juga. Nampaknya perut mengalahkan urusan kehewanan.

    1. Waduh mba Tje, susah betul nahannya kalo msh januari udah merindu natal hahahaa 😉 …. Iya itu dia, apa PETA kurang agresif gitu di perancis??

      1. Kayaknya sih emang culture, jadi susah. Sama kayak bull running dan bull fighting di Spanyol.

      2. Ooo iya bnerr… Itu jg sama… Emang susah menghapus kebiasaan yg udah menjadi adat yaa *pensive*

  4. mellyloveskitchen says:

    Eh Tarte Flambee aku cicip buatan tanteku di rumahnya. Di Strasbourg ini malah aku kesulitan cari masakan Turki atau Arab, jadi ya balik lagi ke Bretzel dan temen temennya deh 😉

    Yang bikin demen di Strasbourg, aku tetep bisa speaking Germany, lanjut >__<

    1. kalo aku balikannya buLur… (satu2nya) yg bikin ga demen di strasbourg krn aku ga bisa kedua2nya (bahasa) hahaha… iya sih kyknya krn org perancis (sama seperti itali) sangat bangga dgn budaya makan mrk, makanya restoran asing susah berjaya disana. beda kyk belanda misalnya, yg ga punya budaya makan. makanan indonesia, turki, dan cina jd merajalela disini hahaha…. *garukdinding*

  5. Bretzel aku suka bangett, pas thn baru ada yg versi jumbo diameternya 30 cm 😀 . Kalau glühwein rasa nya agak aneh di lidahku hehe. Jadi lapar ah lihat foto2 makanan 😆 .

    1. waduuhhh … gimana ngabisinnya itu bretzel?? bagi2 sekeluarga kali yaa hahhaa… Oalahh ka Nel, gimana toh org jerman ga suka gluhwein hihihiii… ^___*

  6. Mampir sih pas makanan… salah besar dah. hahahaha.

    Apa kabar? Maafkeun lama gak kunjungan. Happy new Year yak

    1. Harusnya mampir pas mau tidur yaa…biar bangun lagi en capcus ke dapur hahaha… Puji Tuhan kbr baik… Apa kbr Ryan?? Met thn baru yaaa…. Have a wonderful journey ahead ^^

      1. You too ya Patricia. May the new year brings more success for u n fam.
        Pas mau tidur? Duh yang ada buka gojek n pesen makanan. Hahaha.

      2. Amiinnn ….
        Iya bneerr, that’s the intention, biar makan lagi hahahaa 😂😜

      3. 😭😭😭 tega *elusperut10tahungakurus2*

  7. mamarafazafa says:

    Wah, abang hebat udah bisa baca peta, tapi katanya memang laki-laki lebih bagus orientasinya dari perempuan…atau jangan-jangan perempuan yang gak tau orientasi arah salah satunya aku ya heheh. Itu eskrim Amarino enak banget apalagi rasa Pistachio:
    Aku juga lidahnya Indonesia banget dan emang takut nyoba yang aneh-aneh. Sepertinya kalau region eropa yang masuk ke taste bud aku ya masakan Yunani dan Turki atau Italia. Kalau makanan Perancis, kecuali kue-kuenya aku kurang selera.

    1. Waahhh taste bud kita sama Irma… Toossss hahaha 😀
      Iya denger2 jg gitu, laki-laki lebih bagus orientasinya drpd perempuan… Aku baca peta sih lumayan, tapi begitu ditanya mana utara ato selatan langsung melongo bingung hahhaahaaa ^___*

  8. Abis baca tulisanmu aku jadi pengen makan foie gras, bekicot dan Flammkuchen. Lain kali ke Strasbourg bisa ikutan boat’s tour, Pat.

    1. Wah Min, i say no to foie gras but a big yess to bekicot en flammkuchen hahahaa… Holiday kmrn aku puas2in makan bekicot beli di supermarket hehehee…
      Kami kemarin fokusnya hanya kerstmarkt sebenernya… Makanya cuman jepret sana sini doang, ga mengeksplor kota …
      Kalo next time kesana lagi, nanti dicoba boat tour nya… Thx Min ^___^

  9. HI Patrcia, ada rekomen restoran untuk tarte flambée or makanan lain? Bulan depan mau ke Strasbourg 🙂 Thanks a lot

    1. Halow Hongkodjojo Tan…. Maaf saya baru buka wp… Mungkin komentar saya sudah terlambat… Semoga liburanmu di Strasbourg luar biasa yaa….
      *salam*

  10. aduhhh lama gak buka blog lgsg baca beginian bikin kangen jalan jalan makan makan .. eh kalau makan disni udh tiap hari ahahhaa

    1. Punten banget komennya baru dibaca, saya baru buka blog lagi hehehe *benemin muka ke pasir*

  11. boxofpages says:

    Aah.. Jadi pengen ke Strassburg 😀
    Kapan itu gk sengaja nemu Döner Kebab dari daging domba enaaak bgt. Btw, sama.. I’m against foie gras juga 😦

    1. Doner kebab emang enak yaa… Rasanya pas buat lidah en harganya pas buat kantong… ☺️👍

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s