Membawa Ma dan Pa mengagumi Alpen

Secara mengejutkan, kami mendapat kunjungan singkat dari oma dan opa NayLa. Seperti yang pernah saya ceritakan, tahun lalu mama saya terkena serangan strok ringan. Walau, –puji Tuhan–, Ma sudah berangsur sembuh, tapi beliau masih belum pulih paripurna. Apalagi dengan kesibukan Ma dan Pa. Tahu kan bagaimana sibuknya Indonesia kita itu. Tidak ada hari yang lewat tanpa agenda. Ada saja yang dikerjakan setiap hari. Rapat, arisan, acara ini itu, kunjungan ini itu, bahkan konon katanya di Indonesia sekarang ini setiap hari ada saja pesta pernikahan…

Kunjungan mereka ke Belanda, –seharusnya–, adalah untuk beristirahat. Tapi apa mau dikata, spirit ‘aji mumpung’ orang Indonesia terlalu kuat menggelitik…; mumpung lagi di Eropa, mari jalan-jalan… Jadinya kami mengambil waktu sejenak membawa mereka berlibur akhir pekan melihat Alpen, dengan catatan; diusahakan perjalanan yang santai, jangan terlalu capek. Dengan membawa dua krucil yang masih masa pertumbuhan, bersama opa dan oma yang sedang masa pemulihan (khususnya Ma yang sebentar-sebentar harus mencari toilet haha…), maka sempurnalah kami masuk kategori the slow travelers alias pelancong lamban. Sebelum berangkat saya mendapat early warning plus pelototan dari ayah, “no itinerary!”. Suami saya terlalu tahu kalau itinerary saya selalu jam-packed hihihi… ^___*

***

Karena niat ke Belanda adalah untuk beristirahat, awalnya Pa agak keberatan diajak jalan-jalan. Makanya tawaran kami melihat gunung Alpen disambut Pa dengan biasa-biasa. Alasannya, gunung dimana-mana pasti sama saja. Apalagi sebagai seorang Minahasa asli –yang disebut orang Manado dengan istilah ‘orang gunung’–, pemandangan gunung merupakan pemandangan sehari-hari di kampung.

Tentu saja seperti pengalaman banyak orang, pesona pegunungan Alpen pun berhasil menawan hati papa… Beliau terbelalak kagum dengan keindahan gunung itu sampai-sampai sepanjang jalan Pa tak berhenti menoleh ke kiri dan kanan sambil mengabadikannya dengan kamera.

IMG_0101ed-copy
Puncak Zugspitz, salah satu dari jajaran pegunungan Alpen, dilihat dari Fernpass. Zugspitze merupakan titik tertinggi di Jerman.
IMG_0170-copy
Maaf ya bang, Abang silau dipaksa bunda bergaya di photobooth rest area Fernpass.

Melihat Alpen, adalah melihat bukti karya ajaib alam yang melampaui imajinasi. Saya masih berdecak kagum membayangkan ‘hanya’ karena tabrakan dua lempeng tektonik sanggup membentuk jajaran pegunungan batu yang kokoh dan indah tersebut… Pemandangan alam di sekeliling gunung seperti buah ceri di atas sepiring bolu coklat; menambah cita rasa Alpen.

Coba tutup matamu dan bayangkanlah, sejauh mata memandang adalah padang rumput hijau yang berbukit-bukit, sebuah rumah kayu kecil di tengah ladang, –saya rasa itu gudang–, sekawanan sapi yang bergerombol merumput disekitarnya, dan pemandangan gunung Alpen yang menjulang kokoh di belakangnya. Indah, bukan??

Andai bisa, rasanya ingin saya bersenandung keras-keras “…the hills are alive with the sound of music…” sambil berguling-guling, berputar-putar, berlari-lari seperti Maria. Tapi lalu seketika imajinasi indah saya hancur oleh bayangan prinses Syahrini yang nyempil berguling-guling di suatu padang rumput di Eropa…. Aaarrgghhhhh…. *komat-kamit menengking bayangan itu*

IMG_9603-copy
Pemandangan di kaki gunung Alpen …

Biasanya jika bertemu pemandangan cantik di pinggir jalan, ayah menghentikan sejenak mobilnya dan membiarkan saya bebas mengambil foto. Karena kali ini kami adalah ‘snail traveler’ yang punya keterbatasan waktu, maka sejak awal perjalanan ayah mengeluarkan dekrit khusus untuk bunda; tidak menerima permintaan berhenti di tengah jalan untuk motret ^_____^

Ya sudah…., saya rekam pemandangan indah ini dengan lensa mata dan kamera hati #eeeaaaaa….. :p

***

Penginapan kami terletak di regio Allgau, sebuah regio yang konon merupakan daerah favorit para pendaki gunung. Penginapan kami dikelilingi hamparan padang rumput dengan danau tenang yang hanya beberapa meter jauhnya dari apartemen. Tinggal beberapa hari di daerah ini sungguh sangat therapeutic. Tempatnya begitu tenang, sejuk, dan indah, pas untuk terapi mata dan pikiran. Tapi juga cocok untuk terapi hidung, karena bau kotoran sapi yang semerbak mewangi sepanjang hari hahaha…. :p

Attachment-1
Bergaya di balkon apartemen …
IMG_0090
Sarapan pagi kami, yang sangat tak cocok di lidah Pa hahaha….

***

Mobil kami perlahan-lahan mulai menjauh membelakangi Alpen. Sepertinya saya dan mama masih belum ridho meninggalkan pemandangan indah itu karena berkali-kali kami masih saja menoleh ke belakang, sambil sesekali men-jepret dengan kamera hape. Andai saya seorang milyuner yang punya rumah liburan di kaki alpen *angan-angan tukang cendol, istilah Ma….*

IMG_9604-copy

 

debagpacker-signature

Advertisements

4 Comments Add yours

  1. Aiih… mupeng abisss… 🙂

    1. Saya juga mupeng balik lagi hehehe… 🙆☺️

  2. mellyloveskitchen says:

    aamiiiiin…. semoga bisa punya rumah liburan di kaki alpen, ngayalnya di doa sekalian yaaak hihihi…

    Oma, Opa awet muda bangeeet…. semoga selalu sehat yaaa…<3 ❤
    Envy iiiih bisa berkumpul keluarga gini…

    1. Amiinnnn buLur 🙏😍… Makasih utk doanya walau butuh nabung 100 tahun lamanya hahahaa….
      Oma opa bilang terima kasih utk pujian dan doa nya 🙏😍☺️💝

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s